Minggu, 27 Juni 2010

LIMA PERKARA YANG ANEH

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqih yang masyhur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahwa antara nabi-nabi yang bukan Rasul ada yang menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.

Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghadap ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang engkau lihat hadapi maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engakau dari padanya".

Pada keesokan harinya, Nabi itupun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata," Aku diperintahkan memakan pertama yang aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur "Alhamdulillah".

Kemudian Nabi meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itupun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.
Maka berkatalah Nabi itu, "aku telah melaksanakan perintahMu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Alloh, tolonglah aku".
Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu diapun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihat keadaan itu, lantas burung elang pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Alloh, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh karena itu jangan lah engkau patahkan harapanku dari rezekiku." Nabi itu teringat pesanan arahan dalam mimpinya yang ke empat, yaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pahanya dan diberikan kepada elang itu. Setelah mendapat daging itu, elang itu pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dalam bajunya.

Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalanannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ karena tidak tahan menghirup bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdo'a. Dalam do'anya dia berkata, "Ya Alloh, aku telah melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku arti semua ini".

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Alloh Subhanahu wa ta'ala bahwa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua, semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia akan tetap nampak jua.
Ketiga, jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah engkau khianat kepadanya.
Keempat, jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat.
Kelima, bau yang busuk itu adalah ghibah (menceritakan hal seseorang) Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah".

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini kadang berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahwa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Alloh akan terkejut melihat pahala yang yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Alloh, sesunggguhnya pahala yang Engkau berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu".
Maka berkata Alloh Subhanahu wa ta'ala, "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu."
Dengan ini haruslah kita sedar bahwa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tapi kata mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.
Sumber : Kisah Teladan 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar